Bagi anak kost mie instan bukan makanan yang asing. Maka lebih asing jika ada anak kost yang tidak pernah makan mie instan.
Sejak MABA, saya biasanya menghindari mie instan. Berbeda dengan anak kosan lain yang justru menyetoknya di lemari.
Saya lebih memilih membeli roti, kue dan lainnya untuk pengganjal perut ketika lapar dan kantong lagi kering-keringnya.
Tapi ada waktu dimana saya sangat ingin memakan mie instan. Karena tidak terlalu sering, makan mie instan saat itu justru memberi kesenangan lebih.
Berbeda dengan hari ini, dimana saya memaksakan diri terbiasa dengan mie instan. Menjalani hari-hari yang perhitungan: berhemat, membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan ramah di kantong.
Hal ini sama seperti halnya merokok. Saya perokok sosial, yaitu hanya merokok ketika di lingkungan (pertemanan) banyak yang merokok.
Tapi ketika saya terjun menjadi perokok aktif. Hal tersebut tidak terlalu menyenangkan, saya tidak bisa candu seperti orang lain. Saya muak, lalu ingin berhenti jika sudah terlalu sering bersabung dengan rokok.
Mie instan bukan rokok. Rokok ialah persoalan keinginan yang berujung maut. Sedang mie instan walau mungkin bisa membunuh adalah salah satu kebutuhan domestik. Ia ransum makanan yang mengenyangkan tapi sekaligus memprihatinkan.

