Terusir Dari Asrama, Santri di Suruh Cari Asrama Sendiri

Ihsanul Fikri
0



Judul memang tidak terlalu nyambung dengan foto. Sebab yang menjadi pembahasan di foto adalah SBM ITB yang berhenti beroperasi karena konflik antara rektor dengan forum dosen disana. Saya tidak akan membahas lebih jauh, apalagi ikut campur. Toh saya bukanlah orang sana dan tidak ada urusan dengan SBM ITB.

Tapi mengapa akhirnya gambar diatas saya munculkan? Saya jadi teringat dengan pondok pesantren tingkat smp tempat dulu saya bersekolah. Meski tidak tamat, banyak kenangan dan kesenangan yang saya dapatkan ketika itu. Yah, walaupun pada ujungnya, ponpes itu dibubarkan juga.

--

Si Pemilik Sapi dan Santri Nakal

Waktu itu sudah di tahun ketiga. Di samping asrama kami, agak jauh sedikit, ada kandang sapi. Berbeda dengan santriwati yang sudah tinggal dibangunan tetap, waktu itu kami masih pindah-pindah. Dari rumah ke rumah lain,  entah menumpang atau pihak ponpes yang menyewanya.

Ada kejadian lucu, saya gak sengaja melihat seorang santri ngelempar pecahan batu bata ke kandang sapi di siang hari, entah ngapain, saya cuma nengok sebentar dari dalam asrama.

Sore harinya, pemilik sapi tersebut mendatangi asrama kami. Ia mengamuk, tentunya hanya sampai pada tahap omongan, meski di tangannya memegang sebilah sabit dan menunjuk segerombolan santri yang nampak kebingungan dengan kemarahan yang entah ditujukan pada siapa

Ternyata anak sapi yang ada di dalam kandang itu gak bisa berdiri, badannya tergores dan penuh luka. Kandang sapi itu pun dipenuhi oleh pecahan batu-bata. Saya gak habis pikir mengapa ada orang yang seperti itu, aneh, psikopat gak ada akhlak.

Saya tahu orangnya, saya tatap dia dengan pandangan tajam. Ia diam, badannya kaku, wajahnya pucat, haruskah saya memberi tahu si pemilik sapi?

--

Ketua Yayasan dan Pindah Sekolah

Sayang, saya waktu itu apatis, benar-benar apatis. Jadi hingga akhirnya kepala yayasan mendatangi asrama kami, wajahnya yang biasa lembut pun berubah menjadi keras dan tampak marah, saya diam. Mungkin tidak ada anak lain yang melihat kelakuan oknum pelempar anak sapi itu, atau mereka sama seperti saya. Apatis. Entahlah.

Karena gak ada yang menjawab, keputusan akhir pun dipilih oleh si ketua yayasan. Ia dengan gamblang bilang ponpes akan di tutup. Sederhananya, seperti narasi gambar diatas. Ponpes berhenti beroperasi karena kenakalan santrinya.

Tidak hanya itu, kami pun juga kehilangan asrama kami, ternyata pemilik sapi juga adalah pemilik rumah. Ia tak lagi mentolerir perbuatan nakal kami, akhirnya kami pun, santri nakal, terusir.

“Udah gak ada asrama lagi gara-gara perbuatan kalian, sekarang kalian cari asrama sendiri,” ucap si ketua yayasan mengakhiri kunjungannya setelah lama tidak.

Esoknya, kami mulai berkemas barang, beberapa di jemput orang tuanya, yang lain masih bingung mau kemana. Saya saat itu menumpang di rumah seorang teman yang menjual gorengan keliling, sudah sering kami menginap disana, semacam basecamp lah. Tempat ngerokok atau nginap sehabis begadang di warnet.

Hingga tiga hari kemudian, Uda datang dan menjemput. Gak lama saya pun pindah sekolah, kembali ke kampung halaman.

Ada banyak masalah mengapa ponpes ditutup. Mulai dari ketua yayasan yang lebih fokus mencaleg, santri yang gak bayar uang semesteran, santri yang suka bikin masalah, gak ada donatur, guru banyak yang mundur dan apapun itu.

Saya kira, saat itu ponpes sudah benar-benar ditutup. Rupanya masih bertahan sampai angkatan saya lulus. Kabarnya sih, mereka cuma ikut ujian. Belajar mandiri dari rumah. Nah, setelah lulus, angkatan dibawah kami diminta untuk pindah. 



Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)
Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !